Kebetulan?

Hari Minggu kemarin adik ipar ngajakin sekeluarga ke rumah (insya Allah) calonnya (dek A). Ceritanya biar kenalan, sebelum ditinggal study ke Jepang. Singkat cerita, mertua (Papa) dan bapak dek A ngobrol, yang berujung, mereka ternyata kenal deket sama satu temen yang sama, namanya Pak R. Jadi Papa itu temen pak R karena satu SMA dulu, dan bapak dek A temen pak R dari organisasi, si pak R sering main ke rumah bapak dek A itu.

nah, hari ini tiba2 si Papa kasih lihat foto reuni SMA nya waktu di Bandung. ada dua orang temen Papa lagi salaman.

“Lucu nih mba,” kata Papa

“Kenapa Pa?”

“Lihat nih, yang kanan itu Pak R, temen Papa sama bapak dek A. yang kiri itu Pak K, temen Papa sama bapak kamu.”

dan V ketawa, betapa dunia rasanya sempit, ada di ujung mana ke mana lah kok bisa2nya mantu Papa ini bapaknya ternyata temenan sama Papa semua, satu SMA sama Papa semua, satu angkatan pula.

ah, di dunia ini, setiap pertemuan & perpisahan, pasti ada hikmahnya. hanya kadang, kita belum tahu langsung saat mengalaminya.

lucu ya, amazing aja rasanya bisa pas gini, insya Allah kalo jodoh, jadilah dek A sama adik ipar V, harus bersabar nunggu adik ipar minimal kelar S2 di Jepang dulu baru merit. asik..hhaha😀

Next

kalau dibilang takut, saya mungkin penakut. saya takut salah ambil keputusan lalu dimarahi, disalahkan. saya takut yang saya lakukan salah, berdampak orang lain, dan saya disalahkan.

mungkin karena itu, saya (sejujurnya masih) takut punya anak lagi. bukan masalah hamil & melahirkannya, karena itu saya pribadi yg merasakan. tapi, anak lagi, adik buat Alfi, itu rasanya, saya bingung gimana bilangnya.

Alfi hari ini 31 bulan, 2y7m. Alhamdulillah sudah tidak pakai diapers kecuali kalo pengen pup (msh blm terbiasa pup di WC). tapi Alfi belum berhasil disapih, apa karena hati saya yang terlalu lemah, takut Alfi sedih, nggak tega lihat Alfi menderita karena hilang sumber kenyamanannya. padahal harusnya saya menyapih & melatih Alfi bahwa sumber nyamannya bisa dari hal lain, tidak hanya dg menyusu.

saya takut dibilang ibu yg nggak sayang anak (tega banget sih anaknya dipaksa disapih), saya takut dibilang ibu yg nggak sayang anak (masa umur segini belum disapih juga, nanti nggak mandiri).

rasanya masih banyak PR saya, terutama yang berhubungan dg sisi psikis saya, tentang mendidik Alfi mandiri, harus sudah bisa ini itu, disapih, tuntas TT, bisa makan sendiri, dll. saya merasa dikejar untuk menuntaskan banyak hal sebelum memutuskan untuk hamil lagi.

mungkin tekanan itu bukan dari sekitar, tapi dari pikiran saya sendiri. saya takut ketika memutuskan hamil lagi dan orang menilai saya, kok udah hamil lagi kan Alfi nya masih …., kok udah hamil lagi emangnya udah …., dll.

ah, bodoh ya? mikirin banget apa kata orang nanti, padahal kan saya yg jalani. padahal belum tentu juga begitu pengen langsung dikasih sama Allah kan, kepedean amat ya.

saya belum bisa sepenuhnya cuek, nggak mikirin apa kata orang, atau selama ini orang nggak bilang apa2, tapi saya nya aja yang overthinking?? saya ketakutan duluan?? karena saya lihat perlakuan orang pada orang lain, dan saya nggak suka, dan saya pikir jika saya di posisi sama maka akan diperlakukan begitu? saya takut. karena saya dengar pembicaraan orang pada orang lain, dan saya nggak suka, dan saya pikir jika saya di posisi sama maka akan digunjingkan begitu juga? saya takut. rasanya tidak nyaman. sangat tidak nyaman.

saya merasa bodoh, saya bicara seolah tidak punya Tuhan. tapi sungguh, saya tidak bisa mengabaikan perasaan ini. walau saya tidak menunjukkan, tapi rasa takut itu sering tiba2 datang lagi. membuat ragu, membuat bertanya, mampukah saya? kuatkah saya?

apa yang paling saya butuhkan sekarang? disemangati? diyakinkan? bukankah semua itu percuma jika bukan saya sendiri yang mengambil langkah? atau, bagaimana harusnya?

Ya Allah, 5 bulan lagi Alfi 3y, kalau sesuai rencana, setelah Alfi 3y mau program anak ke-2, apakah 5 bulan cukup untuk meyakinkan diri? cukup untuk menguatkan diri?

please ya Allah, stay with me..I need YOU, more and more.

Jodoh?

Tiba-tiba aku ditanya,
“Gimana sih bisa yakin dia jodohmu?”

aku tidak langsung menjawab, aku menatapnya dan mengernyit, lalu tertawa
“ya karena dia yang menikahiku. hahaha…” jawabku sambil tergelak

perempuan itu terlihat tidak puas, aku menjawab lagi
“ya itu namanya jodoh…sampai menikah.”
“nggak! maksudnya bukan gitu! gimana kamu yakin mau menikah sama dia, bahwa dia orang yang emang tepat buat kamu nikahi, bahwa dia…jodohmu…sebelum kalian memutuskan, oke kita nikah.”

dia melipat tangannya di depan dada, kesal akan jawabanku. Aku tersenyum kecil.

“kalau aku cerita, mau dengarkan? mungkin agak membosankan, dan panjang..mau?”

dia mengangguk cepat.

-*-

“aku suka menuliskan impianku di buku diary, apapun, termasuk sosok pasangan impianku. aku bahkan memilih nama untuknya. Ega. aku tidak tahu kenapa nama itu, asal lewat saja. lalu aku pun memikirkan kepribadian seperti apa yang kuinginkan dari pasanganku kelak.” aku memulai cerita

“wow! seperti membuat karakter tokoh novel atau komik!” dia antusias

“ya begitulah. aku bahkan menuliskan, seperti apa momen pertemuanku dengannya kelak.”

“jadi kamu ketemu suamimu seperti ketemu Ega, jadi kamu ngerasa yakin dia jodohmu, gitu?” tanyanya penasaran

“tidak 100%, beberapa hal memang sesuai seperti Ega, yaitu dia yang berani datang melamarku, dan kemudian orang tuaku yang tanpa ragu menerimanya, dan…yang paling mirip adalah, momen pertemuan kami.”

“ohya?? seperti apa??”

“waktu itu kami sama-sama masih di kampus, kami satu angkatan, satu organisasi. aku baru selesai kuliah dan perlu mengambil buku yang tertinggal di ruang organisasi. saat sampai di depan pintu ruangan, aku baru sadar bahwa kunciku tertinggal. aku ragu minta tolong yang lain untuk membukakan pintu, tapi tiba-tiba suamiku datang. dan ketika dia datang, waktu rasanya melambat, angin meniup dedaunan kering, terlihat seperti angin yang membawa langkahnya. hahaha, entahlah, rasanya seperti itu, dan itulah yang aku tuliskan tentang pertemuan dengan Ega, persis.” aku tersipu

“kalian sudah kenal?”

“iya, kubilang kami satu organisasi, dan sebenarnya saat itu kami sudah mulai saling tertarik. dan dia datang membawakan kunci, padahal aku tidak bilang apapun, pada siapapun. seolah dia tahu, dan datang hanya untuk mengantar kunci, sudah hanya itu.”

“wow…hanya itukah yang membuatmu yakin?” nadanya tak percaya

“tentu tidak hanya itu. seiring kami makin dekat, kami makin sadar bahwa kami punya banyak perbedaan, banyak sekali. sesekali kami tidak sengaja menyakiti. tapi entah kenapa, kami tidak bisa melepaskan. dan aku sendiri pun merasa, ini beda. aku merasa, perbedaannya adalah untuk menyempurnakan aku. ibarat aku adalah puzzle, aku butuh sisi yang berbeda agar lengkap bukan? nah, dialah keping itu, yang membuatku merasa utuh. klise ya?” aku menutup mukaku dengan tangan

“hmm, rasanya beda ya? hmm, tapi bukannya beda orang pasti rasanya beda?”

“iya, tapi saat dengan dia, aku merasa pertama kalinya takut kehilangan, bahkan sampai tahap tidak ingin membayangkan jika dia bukan jodohku. untuk pertama kalinya aku merasa tidak ingin yang lain. padahal kalau kamu tahu, aku dulu perempuan yang merasa mudah untuk mendapatkan, mudah untuk melepaskan. tapi dengannya, sulit, tidak bisa. mungkin karena itulah, aku memilih terikat dengannya selamanya, dalam pernikahan.” aku tersenyum, berharap dia paham

“aku, belum ketemu yang kaya gitu.” ujarnya terlihat sedih

“entahlah ini cocok atau tidak, tapi insya Allah, sudah disiapkan jodohmu olehNya. lanjutkan saja hidup, jadi dirimu yang terbaik, kelak jika waktunya tiba, akan ketemu juga dengan seseorang yang kedatangannya membuat waktu melambat sejenak. hahaha..oke?”

“aamiin..”

-*-

untuk seseorang, yang masih galau sama jodoh. semangat ya..🙂