(mungkin) suara hati seorang sahabat

Kita sudah menanggalkan seragam putih abu-abu itu beberapa waktu yang lalu. Kita sudah melangkah, bahkan terjun dalam dunia yang serba baru. Tidak hanya tempat, tapi hati, jiwa, dan pikiran kita, dijejali dengan hal-hal baru.

Sayangnya, itu hanya sebuah “seharusnya”, pada kenyataanya, terlalu banyak, masih banyak, dari kita yang tidak juga berkenan mengucap selamat tinggal pada kebebasan khas anak sekolah, yang sekalipun dikungkung berbagai tugas, tapi mendapatkan kebersamaan yang sangat sulit dilupakan.

Sepertinya romantisme masa SMA memang sudah menjadi racun yang memabukkan, wangi yang tak ada tapi meresap cepat jika lewat sepintas. Bisa jadi menghadirkan air mata, atau tawa, senyum, bahkan amarah. Tapi bukankah begitu adanya kenangan? Akan selalu menghadirkan berbagai rupa kondisi emosi ketika kita berbalik untuk membukanya, biar hanya sejenak.

(mungkin suara hati seseorang)

Aku, ini membicarakan diriku. Yang ternyata masih jauh sekali dari rasa ingin terjun sebebasnya dalam dunia perkuliahan yang benar2 baru. Aku masih terlampau polos mengartikan dan memandang dunia masih sebagai sesuatu yang serba indah dan persahabatan sejati ada di mana-mana. Aku masih mengira akan selalu ada tangan sahabat yang akan mengusap air mata ketika aku menangis, selalu ada tangan yang bersedia ku genggam dan mengusap punggungku halus saat aku terluka dan sedih, juga wajah yang memberiku semangat dengan ketulusan, lalu memberiku selamat dan ikut merayakan kebahagiaan ketika aku berbahagia.

Ku pikir, dunia ini masih serba ideal, dunia mahasiswa adalah sesuatu yang lebih indah mengenai hal-hal ideal. Tapi aku menemukan kekecewaan ketika aku sadar, pola pikirku salah besar. Kampus adalah bagian kecil dari dunia, yang juga merupakan sebuah dunia. Tidak ada keidealan di dalamnya seperti yang sering orang katakan. Justru dari sini aku mulai merasa kehilangan satu persatu harapan tentang seseorang yang nantinya ku sebut sahabat, untuk membagi empati, hati, rasa, dengan ketulusan. Kebersamaan yang besar, sangat besar, tawa yang pasti berkeliaran di sudut-sudut kelas, tidak ada, tepatnya tidak ada yang aku rasakan. Atau sebenarnya, karena aku baru merasakan “kampus”?

Ini mungkin saatnya aku mengubah total semua harapanku tentang “ideal”, karena di dunia ini semuanya berdiri di atas ketidaksempurnaan. Hanya satu saja yang sempurna, Yang Maha Sempurna, Allah SWT. Maka sudah sewajarnya aku larut dalam semua bentuk ketidakidealan ini, ikut menjadi bagian dari keadaan tidak ideal. Karena kalau aku bertindak sesuai yang seharusnya atau dengan kata lain yang ideal, maka akan semakin sedikit bentuk penerimaan yang aku dapatkan. Aku tidak mau dikucilkan, aku tidak mau tidak punya teman, aku mau menemukan persahabatan lagi, seperti yang pernah aku rasakan di masa SMA. Jadi aku harus mengubur kata ideal.

Di SMA, tidak semuanya ideal, tapi aku tidak perlu meruntuhkan keinginan untuk terlihat ideal hanya untuk diterima. Jadi, tetap dalam pemikiran ideal dan terus bertambah kecewa pada setiap ketidakidealan yang terus muncul melanggar ideal, atau ikut serta menjadi bagian yang tidak ideal dan berusaha keras merasa nyaman dalam zona yang mungkin tidak dikehendaki rasa ideal?

(wahai kawan, bukalah sejenak keraguanmu pada kami..cobalah buka hatimu lebih lebar untuk menyelami kami..di sini, kami tak ingin kau hadapi dunia kampus ini sendiri..jangan merasa sendiri, kami ada untukmu berbagi.)

Comment, Please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s