Connected

Hmm, kita idup udah sekian lama, itung deh berapa banyak orang yang pernah hadir di hidup kita? Atau..yang lagi ada di hidup kita deh…bingung kan? Iya, banyak soalnya…so do I…

Pernah kepikir ga buat nyari tahu, kok bisa ya mereka ada di hidup kita? Knapa ya kita ngerasa asik sama mereka?atau yang lain deh, intinya…ngerasa CONNECTED.

Nah lho, yap, terhubung…
Kita hidup di dunia ga lepas dari yang namanya interaksi, bisa gila kalau kita ga berinteraksi ma manusia lain..karena udah dari sononya manusia itu makhluk dualisme, individu dan sosial..so, kita tu butuh manusia lain..

Yang mau dibilang di sini..kita sering ga sadar akan kemampuan diri kita sendiri untuk beradaptasi dengan lingkungan, yang dimulai dari mengenal orang-orang baru, terus menggali kesamaan, rasa nyaman, sampai akhirnya akrab dan benar2 terasa adanya di hidup kita..jadi saling terkait, terhubung..

Hmm,
Kasian ya mereka2 yang ga punya sahabat, atau mereka yang udah menyia-nyiakan sahabat,. Tau kenapa? Satu sahabat itu harganya 1000 musuh. Bersahabat juga pake seni, bukan sekedar kenal, sering jalan bareng, trus dibilang sahabat, ga gitu juga..

Pernah kepikiran ga sih, menjalin suatu hubungan, mo berteman, bersahabat, ataupun hubungan lawan jenis, semuanya butuh saling ngerti. Ga bisa Cuma satu pihak ngotot pengen dingertiin sama yang lainnya, atau hanya satu pihak yang boleh pegang kendali atas hubungan itu, ga bisa. Jangan harap bisa berjalan mulus itu hubungan kalo masih ada pihak yang ga mau ngebuka diri untuk dikoreksi kalo ada salah, ga mau berusaha untuk ngertiin perasaan yang lainnya, atau juga Cuma ingin dituruti sampai akhirnya kaya majikan ke budak. Ga banget!

Dalam hubungan itu, kita setara. Jangan deh muncul keterikatan hanya karena kepentingan.
“Kita sohib kalo saya butuh kamu, kalo kamu udah ga mau ketika saya butuh, berarti kita bukan sohib. Kalo saya sibuk, ga punya waktu buat kamu, ya tolong ngerti donk. Tapi kalo saya butuh kamu, dan kamu sibuk, saya ga suka, kamu harusnya selalu mau saya minta. Saya ga suka kamu selalu lebih di atas saya, kamu ngalah kek, saya ga biasa dikalahkan.”

Oh MG, kalo kaya gitu yang terjadi, it’s better to leave. Hurt? Emang, tapi daripada mati gara2 makan ati pelan2.

Mau diperbaiki?
Simple, tapi butuh waktu.

Coba deh, buka diri, mau mendengarkan kalo dikoreksi, juga mau mengoreksi kalo yang lain ada salah, biar saling mengisi. Tentunya bukan dengan maksud untuk saling cari kesalahan ya…
Then, buka hati, kalau pengen dimengerti sama orang lain, balik tanya ke diri sendiri, tanya ke hati kecil, udah cukup berusaha ngertiin orang lain ga? Yang punya perasaan ga Cuma kita, tapi orang lain juga punya. Yang pengen dijaga perasaannya ga Cuma kita, tapi orang lain juga. Yang butuh orang lain bukan Cuma kita, tapi orang lain juga butuh kita.

Coba juga inget2, udah berapa lama sohibannya. Sehari, dua hari? Itu bukan sohiban namanya. Ya di inget2, berapa lama udah sering bareng2, berapa banyak kenangan yang ada, masa2 manis, masa2 paitnya, jadiin itu pertimbangan untuk bilang sama diri sendiri,
“They are precious because I’m precious.”
Ya, hargai orang lain seperti menghargai diri sendiri. Kalau kamu bilang,
“aku ga suka digituin.”
Then, coba pikir, apa orang lain suka? Kalau hati kamu yang paling dalam bilang,
“orang lain juga ga suka donk.”
Ya udah, cobalah untuk ga begitu ke orang lain. Simple kan? Tapi butuh waktu.
Tapi, kalo ego kamu sebagai orang yang terlalu sering ditinggikan, misal nih, ga mau kamu tanggalkan untuk dapat hal-hal berharga dalam persahabatan. Fine, emang pantes kalo semuanya dikasih label ‘FIN’.

Kalo sampe sekarang masih ada orang2 yang keliatannya kamu anggap sahabat, mungkin kamu harus hati2, jangan2 mereka juga masih sama kamu hanya karena mereka masih punya kepentingan.

Kemudian….
Hubungan lawan jenis, terutama pasangan yang udah nikah kali ya…(maaf kalo ga semuanya sesuai, abisnya belum pernah nikah, Cuma denger cerita orang2 aja gitu.. =P )

Pernikahan itu kan sakral,
Bisa jadi, sangat diharapkan cukup satu kali seumur hidup.
Nah…dalam pernikahan, terjadi penyatuan jiwa raga dua orang anak manusia. Laki-laki dan perempuan.
Dilihat dari jenis kelaminnya aja udah beda, pasti diantara keduanya akan ada perbedaan yang jauh lebih banyak.

Ketika dua orang memutuskan buat menikah, ga Cuma mereka berdua aja yang harus menyatukan hati. Tapi di belakang mereka, ada yang namanya keluarga. Pernikahan juga berarti penyatuan dua keluarga yang berbeda asal, berbeda budaya (mungkin), berbeda kebiasaan, berbeda dengan segala macam perbedaannya. That’s why, menikah dalam Islam haruslah dengan pasangan yang se-kufu, alias sederajat sih bahasanya. Supaya nantinya ga terjadi banyak pertentangan. Emang…pas menjalani kehidupan rumah tangga nanti, mereka berdua yang akan ngejalanin, tapi kan…seringkali, keluarga juga berperan dalam kehidupan rumah tangga mereka, apalagi kalau punya anak..wah, bisa saling ngasih saran gimana ngasuh anak yang baik tuh, salah tangkep, bisa ga enak jatuhnya..

Menjalin hubungan antar dua manusia ini pun ga jauh beda sama yang namanya ngejalin persahabatan. Bahkan ada salah satu dialog di film india yang Vie suka, “cinta adalah persahabatan”, maka dari itu…bersikap seperti sedang bersahabat bisa bikin hubungan jd bagus..(iya ga ya??)

Hmm, berhubung ide tentang connectednya lg off, jadi..sampe sini dulu ya.. ^_^v

Comment, Please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s