Menerima apa adanya

Dear Reader,

tulisan kali ini ga sengaja ditemukan di salah satu folder di kompi,
tanggalnya belum jauh c,
karena menurut V isinya bagus,
yaa…V pikir ga ada salahnya di publish🙂

oia, ini langsung V Copy+Paste, ditambahin sedikit gambar2 gitu biar lebih menarik, so…selamat membaca!

12 December 2010

Ax, semakin kita mengenal seseorang, kita akan semakin ditunjukkan karakter2 seseorang tersebut yang mungkin tidak ditampakkan kepada orang lain. Hanya ditunjukkan pada orang2 yang dirasa dapat menerima karakter tersebut, atau hanya pada orang2 yang dirasa pasti akan dapat mengerti ketika karakter tersebut ditunjukkan.

Bisa jadi, kita pernah tertarik pada seseorang karena suatu karakter yang kita kenal di masa lalu. Kemudian seiring berjalan waktu, ketertarikan itu membuat jarak semakin dekat, karena ternyata satu sama lain saling tertarik. Ketika semakin dekat, ternyata, banyak karakter yang muncul, banyak hal-hal baru yang tampak dan tentunya, tidak semuanya adalah baik, pun tidak semuanya buruk. Saat itulah, muncul pertanyaan, siapkah untuk menerima seseorang secara utuh, siapapun itu. Menerima seseorang di hidup kita, sebagai siapapun itu sebagai konsekuensi ketika kita mencoba masuk lebih jauh dalam mengenali seseorang.

Entah dalam posisi sahabat,

Friendships

pasangan hidup,

Couple in love

orang-orang terkasih,

Family

bahkan rekan kerja…

Partner

waktu akan membuka banyak hal yang tadinya tertutup dan tak terlihat. Sebuah tanggung jawab yang besar, membuka hati dengan seluasnya, untuk menyadari, begitulah adanya seseorang tersebut, begitulah adanya manusia, baik dan buruknya…

nah Reader,
sudah siapkah untuk menerima seseorang apa adanya?
untuk posisi apapun di kehidupan kita?
semoga kita bisa bijak dalam bersikap, terlebih saat berhadapan dengan makhluk Tuhan yang sempurna,
manusia.

🙂

6 thoughts on “Menerima apa adanya

  1. Fifi says:

    Ya, tidak ada satu pun manusia yang sempurna…
    Setiap manusia diciptakan dengan keterbatasannya masing2…
    Justru, kita ada dan saling mengenal untuk saling melengkapi dan memperbaiki…
    Tak perlu menuntut orang lain menjadi sempurna jika kita pun tak pernah bisa menjadi sempurna…
    Juga tak perlu menuntut orang lain berlaku sama seperti kita jika kita pun tak bersedia dituntut untuk berlaku seperti mereka….

    Tapi…
    Bukan berarti kita membiarkan semuanya berjalan apa adanya…
    Kita tetap punya kewajiban untuk “memperbaiki” manusia dengan da’wah…
    Da’wah bukan berarti mengubah karakter manusia melainkan “hanya” sebatas mengarahkan karakter tersebut agar sesuai dengan apa yang ALLAH gariskan…

    http://www.coretanfifi.wordpress.com

Comment, Please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s