Jangan Membaca Buku

~o^o~~o^o~~o^o~~o^o~~o^o~~o^o~~o^o~~o^o~~o^o~~o^o~~o^o~~o^o~

Perempuan itu, dengan gamisnya yang berwarna biru lembut, senada dengan jilbab yang menutup kepala dan lehernya, terjulur sampai di dada, berdiri menatap hamparan kebun teh. Tangannya mendekap sebuah buku.

“Kak?”

sebuah suara terdengar, memecah keheningan.

“Kamu, terima kasih mau datang” perempuan bergamis biru berbalik, tersenyum
“Kak? ngapain? di sini?”
“Indah, sunyi.” masih mendekap bukunya, perempuan bergamis biru itu kembali menatap hamparan hijau
“Kakak kenapa?”
“Aku butuh teman untuk bicara…lebih tepatnya untuk mendengarkan” perempuan itu seperti bicara pada angin
“Aku tahu kamu terlalu muda untuk mendengarkanku, tapi setidaknya, kamu tidak seperti yang lain.” lanjut perempuan itu
“aku? nggak kaya yang lain? mendengarkan? apa?”
“kamu polos, kamu tulus, tanpa tendensi apapun terhadapku, hanya akan mendengarkan.”
“Kak! lagi ngomong apa sih? Viska nggak ngerti.” gadis yang bernama Viska bergantian melihat ke arah kebun teh dan perempuan bergamis biru
“Vis, jangan terlalu banyak membaca buku.”
“apa?” Viska kaget
“Ternyata, terlalu banyak membaca buku, membuat kita sering lupa kita ada di mana sebenarnya. Kisah-kisah yang dituliskan di dalam buku, begitu indah pilihan katanya, melukiskan dengan sempurna apa yang bahkan belum pernah sedikitpun dialami oleh pembacanya, membuat mereka seakan-akan, seolah-olah, hadir di sana, dalam tiap detil kejadian yang diceritakan, ikut merasakan, persis, suka ataupun duka dari setiap alur yang diceritakan.”
“bukannya itu bagus, Kak? apa yang salah?” Viska memasang muka bingung
“mereka membawa kita, ke dunia yang lain, bumi yang lain, yang sengaja diciptakan di dalam bumi itu sendiri, dia nyata sekaligus fiksi. Nyata dalam buku, fiksi dalam bumi, dan sebaliknya fiksi dalam buku, nyata dalam bumi. Membuat kabur pandangan tentang mana realita mana dusta.”
“Kak Finny…Viska rasa itulah salah satu hal yang membuat tulisan dikatakan berhasil, iya kan?” Viska memandang Finny meminta persetujuan, tapi Finny melanjutkan
“Buku-buku itu membuat kita merasa tak perlu melangkah, toh sudah dijelaskan dengan baik oleh penulisnya, bagaimana persisnya, keadaannya, baunya, rasanya, segalanya, tertulis, dibuat agar dapat dinyatakan dalam imajinasi secara sadar. Tak perlu membawa fisik beranjak, duduk saja, berbaring saja, habiskan waktu dalam hitungan tertentu, dan kita tahu bagaimana angin bertiup, daun gugur, manusia jatuh cinta, seorang bayi bertumbuh besar, dan dunia sedang terjadi sesuatu…”
“apa yang salah sih Kak? Please, Finny nggak ngerti.”
“Buku itu bermata dua. Satu, dia membuat kita ingin mencoba, karena seseorang pernah mencobanya. Dua, dia membuat kita tidak ingin mencoba, karena seseorang pernah mencobanya.” Finny menoleh ke arah Viska, tersenyum lagi
“Apa kamu pikir orang akan mudah melupakan kata-kata? dan lebih mudah mengingat perbuatan?” tanya Finny
“kata-kata yang mengiringi perbuatan, membuatnya tidak mudah dilupakan. Ada kemampuan yang luar biasa dalam diri manusia untuk bisa mengenali gerak tubuh non verbal dari lawan bicara yang sedang mengatakan kata-kata yang dianggapnya penting. Itu membuatnya bermakna. Kadang manusia tidak menyadarinya. Tertukar antara, mengamati geraknya, atau mencerna kata-katanya, karena keduanya tampak bersamaan membanjiri otak.” Finny menjawab sendiri

Viska diam, Finny diam, desir angin terdengar jelas.

“Kakak pegang buku apa?”
“Ya, buku ini baru mau aku berikan, membuatmu semakin sulit menentukan realita dan dusta. Tapi kamu akan belajar mengerti, suatu saat.” Finny menyodorkan buku yang didekapnya ke depan Viska
“Ini buku kakak?” Viska memeriksa sampul bukunya, bersih, berwarna coklat tua, terbuat dari, seperti kulit jeruk
“Yang terpenting, kamu belajar darinya atau dengannya, untuk menemukan jeda antara…”
“realita dan dusta” Viska memotong kalimat Finny

Finny membalik badan, memunggungi kebun teh, berjalan meninggalkan Viska yang mulai membuka bukunya.

“Kak Finny! Buku ini, kosong!” Viska membalik-balik halamannya, sebuah pulpen jatuh.

~o^o~~o^o~~o^o~~o^o~~o^o~~o^o~~o^o~~o^o~~o^o~~o^o~~o^o~~o^o~

2 thoughts on “Jangan Membaca Buku

Comment, Please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s