27 Maret, 2012 (2)

Copas dari status FB sendiri :

“kau?”
“ya, aku, terkejut?”
“tentu”
“aku hanya ingin memberikanmu ini, buku-buku yang kudapatkan kemarin di kota. mungkin tidak asing judulnya bagimu.”
“kenapa?”
“kau masih menulis?”
“jika ingin, hanya jika ingin.”
“ya, aku rindu membaca pikiranmu, menebakmu.”
“ini pancingan rupanya?”
“apa?”
“buku-buku itu? kau tahu benar aku.”
“ya, kau tidak pernah tahan dengan bau buku, selalu ingin menghirupnya dari dekat, menyentuhnya, membolak-balik lembarnya, setelah selesai bercengkrama, matamu akan berkilat liar, tanganmu akan bergerak lebih liar, mencari apapun, untuk kau tulisi, dan kau pun menulis.”
“apa yang kau ingin aku tulis?”
“kau bercanda, aku yakin kau tahu dari buku-buku yang kubawa.”
“semesta?”
“ya.”
“untuk apa?”
“aku ingin membaca pikiranmu, bagiku, ia telaga.”
“hiperbol.”
“sungguh, kedalamanmu dalam memberi makna pada kata-kata, membuatku merasakan adiksi, secara positif.”
“kau ingin sesuatu yang lebih luar biasa tentang semesta?”
“kau sudah pernah menulisnya?”
“bukan aku. mestinya kau memilikinya.”
“apa? aku memilikinya? buku tentang semesta? Ensiklopedi?”
“Kitab Suci.”
“Terlalu sempurna, aku tak bisa mencernanya.”
“Minta orang lain menceritakannya padamu.”
“aku lebih suka mendengarnya dari penutur asli, sayangnya, tak bisa.”
“kau?! apa yang merasukimu?”
“aku rindu membaca pikiranmu, tolong sederhanakan, menulislah untukku, tolong.”

Silence. Depth. Dead.

Comment, Please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s