Dibalik itu

Aku kembali ke tempat ini, kota tempatku mengenyam pendidikan selama 9 tahun. Perpindahan tugas membuatku harus di sini lagi. Tapi banyak hal sudah berubah, banyak sekali. Termasuk kenanganku di sebuah tempat, di dekat rel kereta api, di seberang kantor polisi.

“Rosaaaaa!!!!!!”

suara itu, sepertinya tidak asing, aku menoleh dan aku melihatnya dengan jelas, sahabat lamaku, Dinda.

“Rosaa!! sumpah ya!! nggak nyangka ketemu kamu lagi di sini! lagi nostalgia yaa??” Rosa memeluk dan mencubit lenganku
“kamu tetep heboh ya, nggak berubah.” aku hanya tersenyum sambil mengelus bekas cubitannya
“eh, nggak jawab, lagi nostalgia??” Rosa mengedip nakal
“Hahaha, ya, kalau menurut kamu begitu…” aku berjalan ke arah gerbang, SMP ku, belasan tahun yang lalu
“Ros, mumpung kita lagi di SMP nih, mau denger cerita nggak? aku yakin pasti kamu belum pernah denger!”
“cerita apa? tumben kamu punya cerita yang belum diceritain ke aku.”
“abisnya udah lama juga sih, eh, kamu single kan?”
“menurut kamu? kenapa sih?”
“Iyaa, soalnya…eh, ini lho ceritanya, kamu inget Mario kan? anak basket yang seangkatan sama kita?”
“Mario? mana mungkin aku lupa.”
“Tepat sekali, wah! Maksud kamu mana mungkin lupa??”
“ya, dia satu-satunya pemain basket kelas satu yang tingginya lebih dari anak kelas 3, semuanya juga tahu.”
“huh, kirain. oke, dia pernah naksir kamu lho! percaya nggak?” Dinda tiba-tiba berdiri di depanku
“masa? kenal juga nggak.”
“lho, masa nggak kenal, kelasnya kan di samping kelas kita. Kamu bilang semua juga kenal dia, gimana sih!”
“cuma kenal nama sama muka. kenapa tiba-tiba kamu bilang gitu?”
“soalnya, setelah aku pikir-pikir lagi, kayanya dari tingkah dia ke kamu tuh, ada yang aneh. kamu nggak ngerasa kali ya, kamu kan terlalu polos dan terlalu banyak penggemar!” Dinda mendorong bahuku
“apaan sih kamu, nggak jelas deh.” aku balik mendorong bahunya
“iya, selain itu, dulu waktu SMP, otak kamu isinya cuma senior itu terussss, si pemain bola!”
“udah deh, kamu makin ngaco.” aku berjalan melewati Dinda
“hahaha, oke, oke, aku kasih tahu ya. Mario itu sebenernya perhatiin kamu lho.” Dinda menarikku agar berhenti
“tau darimana?”
“cari bangku yuk, cerita sambil duduk aja. hehehe…” Dinda membawaku ke bangku di dekat lapangan basket
Lapangan ini sudah berubah, dulu belum berbentuk permanen, masih sering ditumbuhi rumput yang menghijau saat musim hujan.
“nah, di sini, duduk.” Dinda membersihkan bangku kami
“oke, aku siap dengerin.”
“kamu inget nggak, kamu pernah cerita sama aku kalau kamu ditegur Mario?”
“iya, kenapa emang?”
“kalian kan nggak saling kenal, tapi dia berani-beraninya negur kamu soal pakai jilbab.”
“ya, waktu itu aku salah, wajar.”
“tapi aneh! temen-temen di kelas lain, nggak negur, coba ceritain lagi persisnya.”
“hm, jadi waktu MOS 3 hari kan aku pakai baju SD, nggak pake jilbab, pas masuk sekolah hari berikutnya aku pakai jilbab, tapi pas acara pramuka sore hari berikutnya lagi, aku nggak pakai jilbab, nah waktu pulang, tiba-tiba Mario ada di belakangku dan dengan santainya bilang aku nggak konsisten, buka copot jilbab, gitu. Ya wajar sih, mungkin dia cowok baik.”
“Pikir deh, waktu itu kan kita anak kelas 1, wajar lah kalo kamu masih belum konsisten, baru juga lulus SD, tapi Mario itu!”
“Kenapa?”
“cuma orang yang sekelas sama kamu yang tahu kalau waktu MOS kamu nggak berjilbab, pas masuk sekolah berjilbab, dan waktu pramuka nggak berjilbab, kan kegiatan kita perkelas. iya kan?”
“mungkin dia tahu karena kelas kita kan sebelahan, ah kamu cuma gitu aja.”
“tapi berarti dia perhatian banget kan sama kamu? di kelas kita kan banyak orang, tapi cuma kamu yang diperhatiin.”
“nggak ah, perasaan kamu aja kayaknya.”
“nggak mungkin! pasti dia naksir kamu!”
“buktinya?”
“cuma anak-anak kelas yang tahu daerah rumah kamu, tapi dia satu-satunya anak kelas lain yang juga tahu! dia pernah bilang ke kamu kan?”
“iya sih, dia pernah tanya buat pastiin rumahku, tapi, cuma itu.”
“nah kan! tahu darimana dia? pasti dia cari2 informasi tentang kamu! pasti! dan juga, setiap jam istirahat, kalau kamu ada di luar, pasti dia juga di luar!”
“hahahha…Dindaa…namanya juga jam istirahat, pasti anak-anak keluar kelas lah…wajar Din…hahahaha…” aku terus tertawa geli melihat Dinda yang begitu ngotot membuktikan bahwa Mario punya perasaan padaku, entah apa yang membuat Dinda begitu, tapi Dinda membuatku teringat sesuatu. Dulu, di kelas 1 SMP, seorang teman Mario bertanya padaku
“Ros, suka basket?”
“Iya, kenapa?”
“Mau nonton anak-anak kelas satu main lawan kelas tiga?”
“Yuk”
“Kamu mau nonton siapa?”
“Mario.”
“Ketahuan!! Yes!!”

teman Mario langsung lari setelah bertanya seperti itu, aku tidak tahu maksudnya, tapi aku malu jika mengingatnya, terlebih karena saat itu, ternyata Mario ada di belakang kami.

“Ros! Rosa! kok jadi ngelamun sih! hayooo…jadi inget Mario yaa!!”
“eh, nggak, aku cuma ngantuk, udaranya enak bikin ngantuk.” aku mencoba tersenyum
“oh, harus lihat yang hijau nih biar seger! Coba tuh lihat kumpulan pohon di sana.”

aku menengok ke arah yang ditunjuk jari Dinda, hanya beberapa meter dari tempat kami, Mario berdiri membawa bola basket, dan tersenyum.

Comment, Please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s