Bunuh Diri?!

Keheningan subuh di sebuah rumah, pecah oleh tangisan seorang gadis.
Kepanikan mewarnai, seorang pria tergopoh-gopoh mengambil air dan menyodorkan gelas pada si gadis.
Gadis itu tak henti juga, tangisnya sesenggukan, terlihat menyakitkan,
mirip orang kumat asma berurai air mata.
Gadis itu ingin berhenti menangis, dadanya mulai sakit, nafasnya menyempit,
tersengal-sengal, tapi tangisnya tak juga reda,
hatinya masih menggerakkan kelenjar air mata untuk menangis.

“Istighfar, nak, Istighfar.” seorang wanita duduk membelakangi gadis itu, pipinya ikut basah, suaranya tertahan, hatinya perih menyaksikan sang putri begitu menderita
“udah, udah, istighfar, tarik nafas, tenang, tenang.” sang pria terus berusaha meminumkan air putih pada sang gadis, menepuk-nepuk punggungnya, hatinya tak kalah sakit, tapi dia pria, seorang ayah, tugasnya untuk tegar dan menguasai keadaan, melihat istri dan putrinya berurai air mata.

Pelan-pelan, sang gadis mulai bisa bernafas, tangisnya masih terdengar,
tapi sesenggukannya tak sehebat tadi, sampai sesak nafas,
dari bibirnya lirih terdengar berulang kali kalimat permohonan ampun pada Allah,
gadis itu beristighfar, menangis, memegang erat gelasnya.

“Buat apa belajar agama? gabung sama rohis? bisa-bisanya pikiran kamu sesempit itu. padahal yang kamu hadapi belum seberapa dibanding kesulitan-kesulitan yang ibu alami.”
“Udah Bu,udah” pria itu masih berdiri di samping putrinya, menatap sedih kedua perempuan kesayangannya

– – – – – – – >

“kamu bercanda kan? bunuh diri? kaya nggak berpendidikan aja.”
“mati bukan solusi kali. cetek amat sih.”
“itu namanya melarikan diri, bukan penyelesaian ah.”
“agama melarang dengan jelas, itu namanya berputus asa dari rahmat Allah.”
“gini aja deh, kalo sampe besok lo masih hidup, artinya Tuhan masih mau kasih kesempatan, pengen lo nyoba lagi. Tapi kalo tiba-tiba besok lo mati, berarti emang Tuhan bilang tugas lo di bumi udahan. jangan buru-buru, liat keadaan dulu. oke?”
“ya ampun! istighfar! sadar!”

– – – – – – – >

Orangtuanya tak di rumah, gadis itu sendirian, melamun.
Berandai-andai, apakah mati itu sakit?
apakah jika dia mati, ada yang menyesal?
atau justru dia yang menyesal karena mati lebih dulu?
apakah ada yang kehilangan? apakah ada yang sedih?
bukankah jika dia mati, beban orang disekitarnya akan terangkat?
tapi, mati pun, akan merepotkan orang lain,
memandikan, menyolatkan, membeli kain kafan, mengkafani,
menggalikan kubur, membuatkan nisan, mengantar ke kuburan,
menguburkan, mengadzani, menaburkan bunga, mendoakan,
semua itu tentu tidak bisa dilakukan sendiri sebagai mayat,
jika dia mati.
jadi, benar juga, mati bukan solusi, tapi,
lamunannya mendadak terhenti.

Comment, Please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s