Memutar Ulang Kenangan

dia menatap layar komputer jinjingnya. sebuah file word yang baru, masih kosong.
dia bingung ingin menulis apa. pikirannya bercampur.
dulu dia tak harus berpikir lama untuk menuliskan,
bercerita lewat tulisannya.
tak perlu peduli apakah orang akan suka, apakah orang akan menilai bagus,
yang dia lakukan hanya menuliskannya.
karena toh selama ini dia menulis untuk dirinya sendiri,
di lembar-lembar pribadinya, diary, catatan komputer,
sama sekali dia tidak menulis untuk dinilai, apalagi diperjualbelikan.
tapi kali ini dia butuh uang, dan satu-satunya hal, yang menurutnya mudah,
adalah dengan menulis. karena itulah yang dia biasa lakukan. menulis.
sayangnya ketika dihadapkan dengan menulis untuk memperoleh uang,
ide-idenya mandeg.
semua hal yang ingin dia tulis hanya hinggap sebentar,
kemudian terbang lagi karena terasa tak sesuai,
sepertinya tidak akan disukai, dan tidak akan jadi uang.
dia mulai frustasi. dia mencari kalimat untuk membela diri.
dia kesal dengan dirinya, dengan keadaan, kesadaran dirinya menyesal telah memutuskan berhenti dari pekerjaan yang memberinya gaji 2 kali lipat standar lulusan baru.
hanya karena ketidaksabarannya menghadapi keadaan,
sebagai mahasiswi yang baru lulus dengan mudah mendapatkan kesempatan magang di sebuah perusahaan raksasa telekomunikasi, mengenal berbagai macam orang dengan jabatan, diberi kepercayaan sebagai pemimpin tim.
masa magang selesai, dan tanpa perlu melamar, dia dilamar untuk mengisi posisi dalam sebuah proyek bernilai huruf T, hanya dia yang dipilih dari total 7 orang dalam timnya.
yang lain mencari kerja, dia dipekerjakan langsung.
hanya 4 bulan dia bertahan. perasaan sendirian, perasaan tidak nyaman, perasaan tanpa arah (atau mungkin tepatnya tidak terbiasa dengan pekerjaan yang wah), membuatnya memutuskan mundur.
melepas status wah, melepas gaji wah, melepas kantor wah, melepas kesempatan wah.
setidaknya begitu menurut sebagian besar orang.
tapi tidak menurutnya, itu keputusan terbaik, dia tidak ingin menyiksa diri.
itu hanya awalnya, keputusannya diambil dengan penuh emosi,
dengan berderai air mata, memohon untuk diijinkan berhenti. dan dia berhenti.
dan kemudian disanalah dia sekarang.
menatap lembar file word kosong, mencari kata untuk disandingkan satu sama lain,
agar layak menjadi sesuatu yang dijual. menghasilkan uang.
dia mulai merasa malu dengan statusnya sebagai pengangguran.
padahal orang memandangnya sebagai perempuan pintar, beruntung, dan sederet kondisi baik,
tapi dia pengangguran. betapa pikiran dan perasaannya menjadi sesak.
pelan dia mulai menangis, bahunya berguncang, menahan beban.
memikirkan orang tuanya, rencana pernikahannya yang terpaksa digantung lagi,
mimpi-mimpinya yang menjadi buram, masa depannya,
dia takut tidak mendapat tempat lagi, dan bahkan dia takut tidak berguna lagi.
semua rasa takut, cemas, khawatir, mengalir dari air matanya.
bibirnya menggumamkan kata-kata berisi permohonan ampun pada Sang Kuasa,
meratapi kebodohannya, menyesali diri, dan mengaku pasrah, mengaku kesulitan untuk bangkit.
hal yang awalnya mudah, menjadi sulit baginya, yaitu menulis.
dia tak bisa menulis untuk mendapatkan uang, dia tak terbiasa untuk itu.
bahunya makin keras berguncang, tangisannya terdengar menyedihkan.
gadis malang.

cukup lama dia seperti itu,
sampai akhirnya sebuah suara pesan singkat masuk di telepon genggamnya.
masih sambil terisak, dia buka, dia baca, dan dia menangis lebih keras.

“Belajarlah untuk menerima keadaan, jangan menyesali apa yang sudah berlalu, segala yang telah terjadi adalah yang terbaik yang sudah digariskan oleh Allah. banyaklah memohon ampunan padaNYA, semoga belum terlambat untuk memperbaiki diri. aku akan selalu bersamamu, mendoakanmu.”

kekasihnya di ujung sana, mengirim pesan mencoba menguatkan,
karena kekasihnya tahu, gadis itu sedang terluka, sedang kehilangan rasa percaya pada dirinya sendiri.
dan mereka berjauhan, terpisah jarak yang bila ditempuh akan memakan waktu sampai 5 jam.
namun tidak sesederhana itu.

waktu menyembuhkan luka.
dulu guru SMP nya pernah berkata seperti itu,
dia tidak lantas mempercayainya,
tapi kali ini, dia baru yakin. ketika dia merasakannya sendiri.

saat ini dia menatap buku hariannya,
sebuah halaman berisikan daftar impiannya,
secara acak penulisannya,
dia tersenyum, berpikir bahwa betapa dunia ini sungguh lucu.
akhirnya, satu persatu impiannya tercapai,
tidak melalui jalan yang dia sangka,
tapi tercapai..
seandainya dulu dia tidak terpuruk, tidak melepaskan pekerjaannya, tidak melalui semua itu,
mungkin sekarang dia tidak memiliki sebuah buku,
bekerja dengan pekerjaan yang dia inginkan,
menikah dengan kekasihnya yang selalu setia dan selalu mencintainya,
hidup dekat dengan sahabat-sahabatnya,
dia tersenyum.
betapa kehidupan adalah sebuah kisah yang indah.
karena didalamnya ada misteri, penuh dengan tebakan,
dan sebuah kata sederhana mewakilinya, JALANILAH.


Anda mungkin pernah berada di titik yang menyakitkan,
dalam keadaan yang membuat Anda terpikir untuk mengakhiri hidup,
seolah semua pintu tertutup untuk Anda,
Anda adalah satu-satunya yang bersalah, Anda menjadi masalah,
saran saya, teruslah melangkah, jangan diam.
suatu saat Anda akan menemukan jalan itu, pintu itu,
jalur dimana seharusnya Anda berada.
jangan menyerah, berusahalah, berjuanglah,
semoga Allah selalu Anda sertakan dalam tiap perjalanan.
Aamiin🙂

One thought on “Memutar Ulang Kenangan

Comment, Please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s