Puitis.

aku tak pandai merangkai kata, sungguh!
makanya aku sering heran ketika orang-orang bilang aku puitis.
ya, aku puitis, hanya jika aku sedang jatuh cinta.
ah ya, mungkin mereka melihatku saat sedang jatuh cinta,
jadi aku puitis, eh tapi, mereka bilang aku selalu bisa jadi puitis,
apakah itu berarti aku selalu jatuh cinta?
aku baru sadar, dan mulai menggali diriku sendiri.

kupandangi wajahku yang sempurna di cermin,
mata, ada.
hidung, ada.
bibir, ada.
alis, bulu mata, pipi, dagu, dahi, ada.
ternyata aku ciptaan yang luar biasa.

aku pejamkan mata,
mencubit diri sendiri, auw! sakit.
saraf sakitku, ada.
aku buka mata,
kuambil sebotol aroma terapi,
wanginya langsung kurasakan.
inderaku membauinya.
permen karet di dalam tas,
kubuka dan kukunyah, terasa segar.
lidahku mengecapnya.

aku yakin aku tersenyum walau tak melihat diriku sendiri.
karena otot wajahku tertarik.

baiklah, cukup dengan aku.
jadi, apakah aku puitis?
apakah aku selalu terlihat jatuh cinta?

aku menghadapkan wajah ke cermin,
mengangguk sekali, menggeleng tiga kali.
aku tertawa kemudian,
teringat bahwa di suatu tempat,
angguk berarti tidak, geleng berarti iya.
aku tertawa lagi.

ah ya,
aku jatuh cinta,
selalu jatuh cinta,
pada tiap-tiap yang diberikanNYA padaku.
hanya padaku.

kamu?
jelas berbeda.

One thought on “Puitis.

  1. Puisinya seru nih…. jarang seorang penyair mengenali dirinya dalam puisinya…

    suka bagian ini
    “teringat bahwa di suatu tempat,
    angguk berarti tidak, geleng berarti iya.
    aku tertawa lagi.”

    karena jarang seseorang mengakui hal ini

    it’s splendid… ^^/

Comment, Please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s