Ridho Ibu

Namanya Cinta. Dia biasa berlama2 menatap kaca sebelum naik ke atas pentas. Mencari orang yang paling diinginkannya hadir dalam tiap peran seninya. Sekali lagi, kali ini tidak ada.

“Nggak ada?” Kania, manajernya bertanya
“Nggak.” Cinta beranjak dan ganti menatap cermin
“Dia nggak akan muncul, Cinta. Lupakan.”
Otaknya mengangguk, hatinya menggeleng.
– –
“Done. You always did a great performance!” Seorang pria memujinya sambil terus bertepuk tangan
“Thanks.”
Cinta turun panggung, matanya langsung menemukan Kania.
“Ke rumah?”
Cinta langsung mengiyakan tawaran Kania.
– –
“Aku langsung pulang ya? Kezia sudah minta ditemenin bobo. Kamu fine kan, Dear?” Kania mengecek keadaan Cinta sebelum menurunkannya di depan rumah.
“Ya, OK.” Cinta segera turun dari mobil dan menyuruh Kania pergi
Sambil berjalan menuju rumah, Cinta sibuk mencari kunci di dalam tasnya yang penuh.
“Susah banget sih!” Rutuknya
“Need Help?”
Suara laki2, Cinta cepat menoleh, Cinta tahu hanya satu pemilik suara itu.
“Akhirnya kamu pulang.” Lanjut pria itu
Cinta diam, tangannya masih di dalam tas, perlahan merengkuh tasnya dan menangis.
“Apa ka..”
“Dad!” Cinta menghambur ke pelukan pria yang ternyata ayahnya. Hatinya luar biasa bergelombang, antara senang, sedih, bingung.
“I can’t breathe.” Ayahnya menepuk minta dilepas, Cinta memeluk sangat erat.
“Sorry Dad, Maaf Yah, Ayah sama siapa? Kapan datang? Kok bisa? Ayah aku..”
“Hold on, Ayah jawab semua yang mau kamu tanya Kan, tapi di dalam, oke?”
Cinta menyusut hidungnya, membiarkan air mata mengalir, dan segera menemukan kunci. Terburu2 membuka pintu, menyiapkan ruangan untuk Ayahnya.
“Kamu sehat?” Tanya Ayahnya
“Seratus persen.”
“Ayah, Ibu mana?” Ibu, satu orang yang sangat ingin Cinta ketahui kabarnya.
Ayah menghela nafas, mengambil sebuah foto di meja. Gambar Cinta seorang diri menerima hadiah dari kontes menyanyi. Ayah meletakannya, dan tersenyum.
“Ibu bangga dengan pencapaianmu. Ibu minta maaf.”
“Apa Ibu sehat? Kenapa tiba2 Ayah datang? Darimana Ayah tahu rumah Cinta?”
“Ibumu masih sibuk dengan sekolah. Dia tidak tahu Ayah mencarimu.”
“Ibu minta maaf buat apa? Kenapa Ayah nggak bilang ke Ibu?”
“Kamu tahu, sejak kamu memutuskan untuk mengambil tawaran kontrak menyanyi, sejak itu juga Ibu menyuruh kamu keluar dari rumah. Ibu bilang dia malu punya anak perempuan yg bangga suaranya dinikmati orang banyak.” Ayah diam
“Setiap kali kamu ada di TV, dengan marah Ibu mematikan TV sambil mengomel ‘pria baik mana yang mau menikah dg penyanyi?’. Ibu ingin kamu mengajar, membagi ilmumu, karena amalannya akan tetap ada sekalipun kamu mati. Ibu ingin kamu menikah dg pria yg dekat pada Allah, agar hidupmu terarah & kamu menjadi muslimah yg benar.”
Cinta melempar pandangannya ke arah pintu, di luar gelap, sunyi, seperti rasa di hatinya.
“Tapi lama kemudian Ibu akhirnya sadar, kebahagiaan Ibu yang terbesar adalah melihatmu bahagia, Ibu tidak bisa bohong bahwa sesungguhnya hatinya haru melihat kamu Berprestasi, hidup seorang diri, dan tidak terbawa arus pergaulan.”
“Ayah, terus kenapa Ayah ke sini?”
“Ibumu kangen,”
“Tapi Ayah bilang Ibu nggak tahu.”
“Ibumu selalu beralasan sibuk, tapi Ayah tahu dia selalu menunggumu pulang, kadang melihat kamarmu lalu menangis, berusaha tidak terlihat oleh Ayah, tapi Ayah mengenalnya hampir 30 tahun. Dia terlalu malu untuk mengakui bahwa dia ingin kamu pulang. Dia takut kamu terganggu & menolak krn dia yg menyuruhmu pergi.” Ayah berjalan mendekati Cinta
“Jadi?” Tanya Cinta
“Temui Ibu.”
Cinta menatap keluar lagi, terlintas kejadian saat ibunya menyuruh pergi. Cinta merasa dia berprestasi, tapi untuk Ibunya itu memalukan. Cinta diminta memilih, lepaskan atau pergi. Cinta begitu yakin bahwa ini jalan menuju bahagianya, impiannya, tanpa berpikir lagi, Cinta pergi.
Cinta merasa pilihannya tepat, karirnya bagus, banyak yang menyukainya, tapi hatinya kosong. Sebanyak dan setinggi apapun jabatan orang yang memujinya, tetap terasa dingin. Tidak ada rasa bahagia. Tidak ada yang bisa diajak berbagi. Sekarang tiba2 Ayahnya datang, dan Cinta meyakini, kosong yang minta terisi itu adalah melihat wajah Ibunya dengan senyuman, dengan pelukan, usapan serta ucap kebanggaan atas apa yang dia lakukan. Cinta tahu, dia harus segera pulang.
– –
“Mas, dari Jakarta jam berapa? Pasti capek ya? Sini tasnya.” Ibu menyambut Ayah tanpa menyadari ada Cinta yg dari jauh mengamati.
“Kok nggak langsung masuk Mas? Istirahat Mas, laporan buat kantor besok aja dibuatnya.” Ibu menarik lengan Ayah, Ayah menahan tangan Ibu, dan menunjuk ke arah Cinta.
Dada Cinta mendadak sesak, mata yang selalu ditunggunya, kini menatapnya, hanya terpisah beberapa langkah.
Ibu tercekat, hatinya ingin segera memeluk gadisnya seorang, tapi tubuhnya diam, menahan air mata.
Cinta melangkah mendekat, air matanya mengalir, tangisnya tak bersuara.
“Ibu.” Cinta menyalami dan mencium tangan Ibunya, tidak langsung dilepasnya
“Maryam.” Ibu menarik tubuh Cinta dan memeluknya dengan erat, keduanya menangis.
“Ibu, maafin Maryam, sudah ganti nama pemberian Ibu, harusnya Maryam bahagiain Ibu, harusnya Maryam patuh sama Ibu.”
“Nak, Ibu hanya ingin kamu bahagia, Ibu hanya ingin kamu selalu dekat dg Allah, kamu adalah amanah dari Allah, Ibu ingin kamu dapat yang terbaik Nak. Ibu ridho Nak, Ibu sudah bilang sama Allah..Ibu ridho..”
Tidak ada lagi yang sanggup Cinta katakan, kata itulah yang ingin di dengarnya, keridhoan ibunya.
– –

Ibu, Mama, Bunda..terkadang putra putrimu melangkah tak sesuai arahanmu. Terkadang kami sejenak lupa bahwa bahagiamu seringkali sederhana, hanya bertatap muka dan melihat kami bahagia. Tapi kami berusaha begitu keras, menjauh dari pelukmu, untuk memberimu bahagia, menurut cara kami. Tapi dirimu Ibu, Mama, Bunda, tak pernah luput berdoa untuk kebahagiaan kami, meskipun arahan langkah kami tak sesuai pintamu, kau tetap mendoakan. Meskipun kadang luka yang kami beri untukmu, kasihmu tak pernah berkurang.

Terima Kasih, telah bersedia menerima surat tugas yang mulia dari Allah SWT sebagai Ibu, Mama, Bunda kami. Sepanjang hidupmu🙂

Fitri sayang Ibu,
Fitri sayang Mama.

♥ Anakmu, Menantumu ♥

Comment, Please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s